Pilih Laman

Sudah Jatuh, Tertimpa Jagat Raya: Disabilitas dan Ancaman Kekerasan Seksual

21 Mar, 2022

Hola Kawan #GengBeda! Ketemu sama Sesa lagi, nih! Sadar nggak sih bayangan kekerasan seksual masih mengintai siapa saja, termasuk para difabel. Penyandang disabilitas ini punya kerentanan yang berlapis, Kawan.

Sudah jatuh, tertimpa jagat raya. Melansir dari tempo.co, penyandang disabilitas di Sumatra Selatan menjadi korban kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh tetangganya. Bidan setempat yang sudah memeriksa perempuan tersebut, menyatakan kalau perempuan tersebut sedang hamil enam bulan. Denger berita ini, jujur Sesa jadi sedih banget…

Korban tersebut merupakan penyandang disabilitas intelektual dan daksa. Sudah dua tahun terakhir ia sulit bergerak sebab patah kaki setalah mengalami kecelakaan. Korban mendapatkan kekerasan seksual beberapa kali ketika sang ibu berada di kebun. Ia baru bisa mejalani tes DNA ketika sang bayi lahir. Sesa kurang dapat informasi apakah bayi yang dilahirkan tersebut atas persetujuan korban, atau keputusan orang lain. Yang jelas, betapa berat kehidupan yang dialaminya.

Kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas merupakan malapetaka yang sering dianggap remeh, didiamkan, bahkan dianggap wajar. Melansir dari americanprogress.org, penyandang disabilitas tiga kali lebih mungkin mengalami kejahatan dan kekerasan, seperti pemerkosaan dan penyerangan seksual dibandingkan yang bukan disabilitas. Selain itu, diskriminasi, dan dieksploitasi secara seksual pun kerap mereka hadapi.

Kawan #GengBeda, kekerasan seksual yang menimpa para difabel itu bisa menyebabkan bahaya psikologis, fisik, serta perilaku. Korban berisiko hamil, mendapatkan penyakit menular seksual, luka fisik, dan gejala psikosomatis (sakit kepala, sakit perut, kejang, dan masalah dengan tidur). Selain itu, mereka bisa saja mengalami kecemasan, serangan panik, rasa malu, rendah diri, merasa bersalah, depresi, ketakutan irasional, serta hilangnya kepercayaan. Tidak berhenti di situ, penderitaan tersebut membuat mereka melakukan penarikan diri, bahkan sampai melukai diri (Sobsey, 1994 dalam The Arc).

Parahnya lagi, pelaku punya kekuatan untuk mengontrol korban, menghapus akses korban ke perangkat pendukung komunikasi dan kualitas hidup. Kejam sekali! Pemaksaan pun menambah hambatan penyandang disabilitas untuk melakukan serangan dan melapor. Selain itu, para difabel sering tidak dipercaya masyarakat karena  keadaannya. Waduh, miris.

Oiya Kawan, dari sekian banyaknya stereotip yang ada kepada teman-teman disabilitas, stereoptip tentang seksualitas disabilitaslah yang paling menyebalkan. Mereka dicap sebagai aseksual, padahal manusia secara alamiah punya proses seksualitas yang sama dan setara.

Penyandang disabilitas intelektual mungkin tidak mengerti kekerasan seksual yang sedang terjadi dan kesulitan mengomunikasikan serangan tersebut kepada orang yang dipercaya. Sebagian lagi, mungkin menyadari kalau mereka sedang diserang, tapi tidak tahu bahwa itu merupakan tindakan ilegal dan mereka punya hak untuk mengatakan tidak (Keilty & Conelly, 2001 dalam The Arc). Tapi, kendalanya yaitu cara melaporkan yang belum mudah diakses.

Apalagi media banyak yang ikut-ikutan yang mencitrakan penyandang disabilitas sebagai orang yang tidak bisa mandiri, harus dikasihani, dan tidak menunjukkan kemampuan atau kekuatan yang mereka miliki. Para difabel pun banyak yang masih dianggap aib dan mengalami objektifikasi dalam masyarakat yang kian menekan ruang gerak mereka. Penyandang disabilitas malah dilarang keluar rumah, bepergian, serta bersosialisasi dengan lawan jenis. Itu bukan solusi buat membuat mereka aman dan nyaman! Aduh, kapan hidup mereka tidak terus menerus disiksa?

Kawan, tahu nggak sih, kurangnya akses kepada pendidikan seksualitas serta gagalnya masyarakat memahami kalau seksualitas itu milik semua manusia, bikin penyandang disabilitas mengalami tingkat kekerasan seksual jauh lebih tinggi.

Penyandang disabilitas perlu mendapatkan haknya, yaitu pendidikan seksualitas komprehensif. Pendidikan seksualitas komprehensif ini jadi langkah preventif kekerasan seksual, di mana nantinya difabel bisa mengerti apa yang mereka inginkan dan bisa mengambil keputusan yang tepat bagi tubuh dan kesehatan mereka, loh!  

Belum lagi, bila penyandang disabilitas yang merupakan seorang LGBTIQ, mereka mengalami penderitaan yang berlapis yang berupa tekanan dan diskriminasi. Melansir dari tempo.co, akibat kekerasan seksual dan diskriminasi pada LGBTIQ, 17 persen dari mereka melakukan percobaan bunuh diri. Huft, mereka kelompok yang rentan kuadrat!

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Harus ada pendidikan seksualitas komprehensif dengan media yang sesuai dengan jenis disabilitasnya. Selama ini, kesulitan yang ada seperti tidak adanya akses atau bahasa isyarat, ketiadaan closed caption pada video, tak ada materi dalam bentuk braille, serta absennya alat pembaca layar.

Selain itu, perlu penanganan khusus terhadap korban kekerasan seksual yang mengidap disabilitas dan hukuman yang lebih berat kepada pelaku kekerasan. Oiya, jika kalian atau teman kalian mengalami kekerasan, jangan ragu untuk mengakses carilayanan.com. Di situ, tersedia layanan untuk bantuan hukum, konsultasi, konseling, rumah aman, kesehatan, khusus anak, dan disabilitas, Kawan! Ah iya, kita pun harus tetap mengawal tindak lanjut RUU TPKS yang akan menjadi perlindungan bagi korban kekerasan seksual ya!!.

Penulis : Lena Sutanti

Referensi:

Americanprogress.org. 2021, “Sexual Violence and The Disability Community”

Tempo.co. 2022, “Seorang Penyandang Disabilitas di Musi Banyuasin Jadi Korban Kekerasan Seksual”

Tempo.co. 2020, “Komnas Perempuan: Kekerasan Seksual kepada Perempuan Disabilitas Naik 43 Persen”

Tempo.co. 2019, “LGBT Penyandang Disabilitas Mengalami Diskriminasi Berkali Lipat”

Tempo.co. 2021, “10 Anggapan Keliru Mengenai Kehidupan Seksual Penyandang Disabilitas”

Tirto.id. 2021, “Yang Terbenam dari Kekerasan Seksual terhadap Kelompok Disabilitas”

The Arc. 2011, “People with Intellectual Disabilities and Sexual Violence”

TheJakartaPost. 2020, “Women with Disabilities at Greater Risk of Violence during Covid-19 Crisis: Survey

 

Beranda / Cerita Sesa / Sudah Jatuh, Tertimpa Jagat Raya: Disabilitas dan Ancaman Kekerasan Seksual

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content