Pilih Laman

Siti Rukiah Kertapati, Sastrawan dan Pahlawan Perempuan yang Terlupakan

22 Sep, 2021

Halo Kawan #GengBeda!

Kami ingin mengucapkan Selamat Hari Perdamaian Sedunia buat kamu semua di mana pun berada. Tahun ini tema yang diangkat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah “Pemulihan yang Lebih Baik untuk Dunia yang Adil dan Berkelanjutan.” Tema ini nggak lepas dari keadaan kita saat ini yang sedang memulihkan diri selama pandemi serta terus bersama-sama
mewujudkan kehidupan kita bersama yang lebih adil untuk waktu yang lama.

Selama pandemi berlangsung, berbagai kesukaran kita alami bersama-sama. Mulai dari kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari hingga renggangnya jalinan-jalinan persaudaraan dan pertemanan akibat sulitnya bertemu. Keadaan ini juga diperparah dengan meningkatnya stigma, diskriminasi, serta kebencian terhadap sesama manusia. Makanya, tema hari perdamaian tahun ini cocok banget buat menggambarkan betapa kita butuh sama-sama merangkul perbedaan
dan saling dukung.

Ngomong-ngomong, kami ingin mengajakmu buat memaknai hari perdamaian ini lewat peran-peran perempuan yang kalau diperhatikan lebih lanjut banyak berkontribusi buat mewujudkan keadilan. Perkenalkan Siti Rukiah Kertapati perempuan penulis di masa penjajahan yang karyanya banyak bercerita soal pengalaman-pengalaman perlawanan perempuan. Lewat
berbagai tulisannya S. Rukiah ingin mendobrak ketidakadilan dan penindasan struktural pada perempuan.

Mungkin kamu mulai bertanya-tanya, apa itu ketidakadilan pada perempuan? Apa pula kekerasan struktural? Yuk, kita kenali satu-satu lewat cerita menarik Siti Rukiah Kertapati.

Rukiah lahir pada tanggal 25 April 1927 di Purwakarta. Semasa mudanya, Rukiah gemar menulis berbagai cerita pendek dan puisi yang diterbitkan berbagai majalah seperti Gelombang Zaman, Pujangga Baru, Mimbar Indonesia, Budaya serta Zaman Baru. Ia juga pernah menjadi editor majalah anak-anak bernama Tjendrawasih.

Salah satu buku yang menghantarkannya jadi penulis perempuan yang mendapat hadiah sastra adalah Tandus. Buku tersebut berisi kumpulan puisi dan cerita pendek yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Apakah kamu pernah membacanya? Beberapa dari kita kemungkinan pernah mendengar penerbit Balai Pustaka tapi belum tentu pernah mengenal buku Tandus dan
penulisnya.

Meskipun karya-karyanya menarik, Rukiah jarang diketahui oleh orang muda di masa saat ini. Alasannya adalah adanya berbagai kekerasan struktural yang terjadi pada perempuan dan identitas minoritas di masa kemerdekaan hingga beberapa puluh tahun setelahnya. Kekerasan struktural, menurut beberapa sumber yang kami baca, adalah kekerasan nggak langsung.
Kekerasan ini nggak terjadi atau dialami orang secara fisik atau berasal dari orang tertentu, tetapi yang sudah terbentuk dalam suatu sistem sosial. Contohnya, kekerasan terhadap seseorang yang punya pendapat berbeda, identitas yang nggak sama dengan masyarakat di tempat tinggalnya, atau cara hidup yang agak berbeda dengan orang-orang kebanyakan.

Dalam karya-karyanya, Rukiah menarasikan hidup perempuan di masa kemerdekaan. Perempuan mengalami berbagai kesulitan hidup seperti sulit mengakses pendidikan, sulit menentukan arah hidupnya sendiri, terpaksa menikah karena tuntutan keadaan, serta sulit berperan di masyarakat sehari-hari karena dibuat seolah-olah hanya punya tempat di ruang-
ruang domestik atau seputar urusan rumah tangga saja. Hal-hal yang dialami oleh para perempuan di masa itu adalah contoh ketidakadilan. Nggak adil dong, kalau perempuan merasa terpaksa melakukan hal-hal yang nggak dia inginkan.

Di masa kita hidup sekarang ini, kita ingin siapa pun boleh melakukan apa saja sesuai keinginan dan kemampuannya. Orang muda bisa nge-dance di TikTok, posting foto idolanya, atau menulis di micro-blog pribadinya. Nah, kalau di masa Rukiah hidup dan aktif berkarya dulu, ia juga melakukan hal yang ia sukai, yaitu menulis soal pengalaman hidup perempuan di masanya. Sayangnya, itu tadi tulisan-tulisannya nggak bisa viral karena ada kekerasan yang terjadi secara sosial di masa itu.

Kembali lagi ke Hari Perdamaian Sedunia, kami merasa Siti Rukiah Kertapati adalah sosok perempuan yang keren karena secara nggak langsung memperjuangkan perdamaian lewat tulisan-tulisannya yang menangkap cerita perjuangan perempuan di masanya.

Kalau menurut Geng Beda, perdamaian itu nggak berarti berdamai dengan kondisi dan situasi yang ada. Kami percaya bahwa perdamaian itu justru dilakukan dengan terus menghilangkan kekerasan dari kehidupan kita sehari-hari, terutama kekerasan terhadap perempuan. Kalau perempuan bebas dari kekerasan dan posisinya di masyarakat setara dengan identitas lain, perdamaian bisa terus kita wujudkan bareng-bareng.

Kalau kamu tertarik dengan cerita Siti Rukiah Kertapati kamu bisa cek referensi di bawah ini, ya.
Jangan lupa baca artikel-artikel kami yang lain supaya kamu nggak ketinggalan informasi terkini
dan cerita-cerita menarik lainnya yang penting buat kamu ketahui. Sampai ketemu di cerita
selanjutnya.

 

 

Referensi:
Hidayati, dkk. (2020). Narasi Domestikasi Perempuan Era Kemerdekaan pada Enam Cerpen S. Rukiah yang Terhimpun dalam Buku Tandus. Jurnal Wanita dan Keluarga 1(2) 2020, 1-15. https://doi.org/10.22146/jwk.1024

“Siti Rukiah Kertapati, Sastrawati Era Kemerdekaan yang Terlupakan” https://docplayer.info/104622134-Siti-rukiah-kertapati.html

“Sastrawan yang 'Sengaja Dilupakan' Siti Rukiah Kertapati, Anaknya tak Tahu Kiprahnya, Ini Sosoknya” https://medan.tribunnews.com/2018/11/24/sastrawan-yang-sengaja-dilupakan-siti- rukiah-kertapati-anaknya-tak-tahu-kiprahnya-ini-sosoknya

“2021 Theme: Recovering better for an equitable and sustainable world” https://www.un.org/en/observances/international-day-peace

Beranda / Cerita Sesa / Siti Rukiah Kertapati, Sastrawan dan Pahlawan Perempuan yang Terlupakan

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content