Pilih Laman

Pendidikan Seksualitas Anak: Nggak Sekadar Gimmick, Tapi Kekuatan Menolak Pelecehan Seksual! *Trigger Warning Sexual Violence Content*

23 Jul, 2022

Hola Kawan #GengBeda! Pernahkah kamu mendapatkan pelecehan dari orang lain waktu kecil, tapi kamu baru sadar ketika dewasa? Atau merasa malu dan berdosa melihat bagian tubuh sendiri? Hmm, kamu nggak sendiri. Kenapa bisa gitu?

Akhir-akhir ini marak pemberitaan tentang pelecehan dan kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada murid, kyai kepada santri, dan pendeta kepada jemaat. Sungguh biadab! Anak kerap menganggap guru dan tokoh agama sikapnya selalu benar, harus dihormati, dan dituruti kemauannya. Ada relasi kuasa di sana, Kawan!   

Sejak kecil, anak kerap diajarkan untuk selalu tunduk dan patuh kepada orang yang lebih tua, meskipun tak jarang mereka juga salah. Bahkan, ditakut-takuti dengan folklor Malin Kundang, Batu Menangis, dan ancaman durhaka ketika membantah orang tua. Akibatnya, anak berpikiran kalau ia perlu melakukan apa saja yang disuruh oleh orang dewasa. Nah, mengenali seksualitas penting supaya mereka bisa menolak, memberi batasan, dan tidak mudah dimanipulasi oleh orang lain.

Yang terjadi hari ini, orang tua masih was-was ngomongin seksualitas pada anak-anaknya, juga sebaliknya. Para orang tua merasa nggak nyaman, risih dan nggak tahu cara menyampaikannya (Zakiyah, 2016). Seksualitas masih tabu diobrolin sebab dianggap kotor, nggak bermoral, mendukung ‘seks bebas’ dan lain-lain. Wadidaww, kejem banget tuduhan nya ya, Kawan~

Padahal nih ya, seksualitas nggak melulu tentang seks, loh! Lebih dari itu, seksualitas berhubungan dengan perilaku, fungsi, fisik, moral, mental, spiritual dan perkembangan. Ini penting banget buat bebas dibicarakan, termasuk di tongkrongan. Masa sih, sepenting apa, Ses?

Ketika anak nggak ngerti tentang tubuhnya, ia kurang bisa mengenali sentuhan yang boleh dan nggak boleh, kurang mengerti batasan, sampai sulit buat tahu apa diinginkan dan yang nggak diinginkan. Misalnya, anak bisa jadi menganggap biasa sentuhan ke daerah intim atau sentuhan romantis yang dilakukan oleh orang dewasa kepadanya, padahal itu merupakan pelecehan seksual. Waduh, bahaya banget! Tubuh kita perlu mendapatkan perhatian yang lebih, Kawan~ 

Anak perlu mendapatkan pendidikan tentang hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) sejak dini, Kawan! HKSR membuat individu dapat mengambil keputusan terkait aktivitas seksual dan reproduksi tanpa paksaan, kekerasan, dan diskriminasi. Kalau anak tidak mendapatkan ini, mereka berisiko tidak mengenali organ reproduksi yang berdampak kepada kesehatan mental dan sosial.

Pendidikan seksualitas kepada remaja di sekolah harusnya nggak sebatas diceritain tentang bagian alat reproduksi dan ditakuti dengan larangan-larangan apabila sudah menstruasi. Ditambah lagi penjelasan antara perempuan dan laki-laki dipisah. Hadeh-hadeh, setabu itu, Kawan! Pendidikan seks harus mencakup gender, kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual, hak seksual, HAM, kepuasan, kekerasan, keragaman, hingga hubungan manusia. Kawan, remaja berhak mendapatkan akses kesehatan dan reproduksi yang mudah dijangkau, nggak menghakimi, loh~

Pendidikan seksualitas cuma berisi larangan-larangan? Nggak lagi, deh! Orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya perlu menjelaskan kalau seksualitas itu kompleks, nggak semata-mata buat menghindari masalah. Remaja tuh makhluk seksual, mereka bisa mengambil keputusan sendiri dan punya standard pribadi. Pendidikan tentang seksualitas ini perlu dengan pendekatan positif, interaktif, dua arah, serta menjamin kesetaraan perempuan, laki-laki, dan gender lain, Kawan.

Sayangnya, belum semua orang tua, guru, tokoh agama, kakak, dan orang dewasa lainnya mengerti tentang pendidikan seksualitas yang komprehensif tadi. Nah, penting banget peran akademisi, praktisi, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, dan para kreator mengedukasi pendidikan seksualitas yang komprehensif, alias menyeluruh. Edukasi kepada para pendidik wajib dilakukan agar mampu menjelaskan mengenai seksualitas kepada muridnya dengan baik, nggak menghakimi, dan nggak diskriminatif.

Kawan, orang tua perlu menjelaskan kepada anaknya mengenai kesehatan reproduksi sesuai umur dan tumbuh kembang anak. Misalnya, anak-anak sejak dini diajarkan dan dibiasakan untuk mandi di kamar mandi, bukan di halaman, dikenalkan bagian tubuhnya yang boleh disentuh dan yang nggak boleh disentuh, penjelasan mengenai menstruasi dan mimpi basah, diberikan informasi tentang menghargai diri dan orang lain, dikasih informasi tentang permasalahan seksual, cara mengekspresikan cinta tanpa berhubungan intim, diskusi terbuka tentang alat kontrasepsi, mengenalkan tentang keberagaman gender dan seksualitas yang ada di budaya sekitar, dan masih banyak lagi!

Oiya nih, orang tua dan orang dewasa harus bisa menjawab pertanyaan anak dengan jelas, ya~ Nggak usah, deh mengubah nama alat kelamin, ngasih julukan lain dari menstruasi, dan menggunakan isyarat-isyarat yang sulit dimengerti. Misalnya nih, penis masih disebut dengan ‘burung’, ‘adik’, dan ‘anu’; Vagina dijuluki ‘tempe’ dan ‘apem’; Menstruasi dikatakan ‘datang bulan’, ‘dapet’, ‘halangan’, dan masih banyak lagi! Semua itu nggak jorok, nggak usah malu bilang sebutan apa adanya. Dunia ini udah rumit, nggak usah ditambah rumit ya gaes yaa, hehehe..

Media juga punya peran, Kawan! “Sentuhan boleh, sentuhan boleh…” Pernah denger atau inget lirik lagu ini, nggak? Nah, ini sedikit gambaran kalau pendidikan gender dan seksualitas itu bisa kita masukkan melalui media lagu, video, cerita anak, dan lainnya, loh! Menantang kreativitas dan mendorong kita buat belajar lagi ya, Kawan! Bisa nih kita ramaikan sosial media kayak Instagram, TikTok, Twitter, dan sebagainya dengan pendidikan seksualitas dengan bahasa yang mudah diterima. Pendidikan seks ini nggak cuman nyari sensasi dengan cerita pengalaman, mengajak berhubungan seksual, atau gimmick lain! Tapi tentang keberagaman, risiko, pengetahuan yang lengkap, sikap yang tepat, asertif, dan perilaku sehat. Ah mantap!

Yuk, edukasi diri kita dan anak-anak di sekitar tentang ketubuhannya serta cara menghargai orang lain demi dunia yang lebih nyaman, yeay~ Pendidikan seks harus asyik dan nggak tabu buat dibicarakan, ya gaes ya.. Jangan ragu buat menolak dan bersuara, ya!

 

Referensi:

Andina. Tri K. 2020, “Menyuarakan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi melalui Pengorganisasisan Remaja”, rifka-annisa.org

Chindany, Amar dan Mansoor, Alvanov. 2020. Struktur Visual Storytelling Animasi Edukasi Pelecehan Suksual “Ku Jaga Diriku. Jurnal Komunikasi Visual Wimba. Vol. 11, No. 1

Liony, Rebecca. 2021, “Halang Rintang Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi Kala Pandemi: Sebuah Refleksi Pamflet dengan Beberapa Relawan Program Suka Ria Remaja. Newsletter Pamflet: Suar Suara

PKBI., “7 Komponen Pendidikan Seksualitas Komprehensif”, pkbi.or.id

PKBI DIY. 2015, “4 Teori Pendekatan Efektif Pendidikan HKSR terhadap Kaum Muda”, pkbi-diy.info

Rahmia, Nisa. 2021, “Lirik Lagu Anak, Ku Jaga Diriku atau Sentuhan Boleh Sentuhan Tidak Boleh, kompas.com

Tirtawinata, Ch. 2020, “Pendidikan Seks Sesuai Tahap Perkembangan Anak”, binus.ac.id

Beranda / Cerita Sesa / Pendidikan Seksualitas Anak: Nggak Sekadar Gimmick, Tapi Kekuatan Menolak Pelecehan Seksual! *Trigger Warning Sexual Violence Content*

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content