Pilih Laman

Gimana Kondisi Perempuan di Huntara (Hunian Sementara) setelah Bencana di Palu?

1 Mar, 2022

Hola, Kawan #GengBeda! Wih, ketemu lagi sama Sesa. Tahu nggak, sih, bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah 2018 silam masih menyisakan jejak hingga sekarang. Nah, Sesa pengen cerita tentang keadaan para pengungsi perempuan pascabencana di ibukota Sulawesi Tengah itu. Gimana kondisi mereka saat ini? Yuk, simak bareng-bareng!

Jika di rumah kita bisa menikmati fasilitas dengan nyaman dan tenang, di huntara (hunian sementara) tidak demikian! Oiya, huntara merupakan tempat untuk berteduh bagi penghuni serta keluarga yang terdampak bencana. Orang-orang yang tinggal di huntara dipaksa untuk berbagi ruang di tengah segala keterbatasan yang ada. 

Kata teman Sesa, terkadang satu huntara bisa dihuni oleh beberapa kartu keluarga, loh, Kawan #GengBeda! Di dalam huntara pun sekatnya tipis atau kadang tidak disediakan sekat antara orang tua dan anak. Selama di pengungsian, perempuan nggak punya ruang privasi buat sekadar ganti pakaian, menyusui, membuka jilbab, dan lain-lain.

Huntara di Sulawesi Tengah (Foto: M.Qadri/detik.com)

Hmmm, gimana kalau kita di posisi seperti itu? Mau ngapa-ngapain nggak nyaman. Nggak berhenti di situ, tempat untuk mandi, mencuci, dan memasak pun digunakan bersama tetangga. Lebih parahnya lagi, hal tersebut terjadi sudah hampir 4 tahun, Kawan. 4 tahun bukan waktu yang sebentar, kan? Huntap (hunian tetap) belum juga mencukupi karena terkendala permasalahan lahan yang rumit.

Selain itu, siapa aja sih yang paling rentan tinggal di huntara? Hmm, tentunya perempuan dan anak, ya… Melansir dari bbc.com, para perempuan penyintas gempa dan tsunami mendapatkan percobaan pemerkosaan dan pengintipan di kamar mandi umum. Benar sekali, anak dan perempuan penyintas bencana merupakan kelompok yang paling rentan di pengungsian. Kejadian pelecehan dialami oleh anak dan perempuan berulang kali. Miris!

Oh ya kawan #GengBeda, kita perlu tahu kalau di beberapa titik, kondisi kamar mandi pengungsian pun nggak ramah perempuan. Sebagian besar toilet laki-laki dan perempuan tidak terpisah, bangunannya nggak sempurna; bolong di atas dan nggak tertutup hingga bawah. Selain itu, bangunan yang dibuat dari seng malah dilubangi di beberapa tempat oleh orang, penerangan tidak terpenuhi dengan baik, dan jarak toilet dan tempat pengungsian itu jauh. Aduh, pusing!

Berat sekali jadi perempuan di pengungsian ya… Sudah menderita atas trauma bencana, ditambah lagi kekhawatiran dan perasaan tidak aman menghantui mereka. Pelecehan seksual pun belum dianggap sebagai masalah serius. Terjadi ketidakjelasan dalam penanganannya sehingga beberapa perempuan memilih untuk diam, ragu untuk bersuara. Pelecehan bisa terjadi kepada siapa saja, oleh orang asing, bahkan keluarga.

Berada dalam situasi darurat bencana, kebutuhan akan kesehatan reproduksi ibu dan anak sering kali diabaikan. Risiko kehamilan yang tidak diinginkan dan IMS (Infeksi Menular Seksual) pun meningkat karena kurangnya pendidikan seksualitas yang komprehensif serta keterbatasan akses kontrasepsi. Hal tersebut masih dianggap tabu dan tidak dibutuhkan, padahal pendidikan seksualitas komprehensif dan akses kontrasepsi adalah hak tiap manusia. Perkawinan anak pun terjadi di huntara. Melansir dari bbc.com, perkawinan anak penyintas bencana gempa dan tsunami Palu terjadi karena kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), desakan ekonomi, serta sosial. Huhu, gawat banget ini kalau nggak segera dicegah dan dihentikan, Kawan!

Oiya, ngomongin soal pendidikan seksualitas komprehensif, apa aja ya, komponennya? Sepenting apa, sih? Menurut International Planned Parenthood Association (IPPF), dalam pendidikan seksualitas komprehensif, kita diajarkan mengenai gender, kesehatan reproduksi dan HIV, hak seksual dan HAM, kepuasan, kekerasan, keragaman, hingga hubungan manusia. Ini sangat dasar dan berguna buat hidup, loh! Sayangnya, hal kayak gini masih dianggap tabu di negara Indonesia ini.

Anggapan tabu seperti inilah yang menghambat pemenuhan kebutuhan akan informasi seputar seksualitas, Kawan! Pendidikan seksualitas komprehensif ini bikin kita tahu apa yang dimau dan dibutuhkan, dan ngerti gimana menghormati diri sendiri dan orang lain. Pendidikan mengenai seksualitas yang komprehensif pun bisa mencegah adanya kekerasan seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, serta perkawinan anak.

Pendekatan terhadap hak anak dan keadilan gender sangat dibutuhkan di saat bencana. Ruang aman untuk anak dan perempuan dibutuhkan untuk meminimalisasi terjadinya kekerasan seksual di saat bencana. Perlindungan kepada kelompok rentan, seperti ibu hamil, lansia, balita, dan disabilitas harus dijadikan prioritas.

Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama memperhatikan akses kesehatan reproduksi, bilik privasi, mempercepat pembangunan huntap (hunian tetap), serta memberikan pendidikan seksualitas komprehensif.

Penting banget, nih buat kita mulai memandang kesehatan, reproduksi, dan gender sebagai hal yang nggak tabu untuk dibicarakan, karena itu adalah kebutuhan manusia. Oiya, gimana keadaan tempat pengungsian di daerah kalian, Kawan #GengBeda? Yuk cerita ke Sesa!

Referensi:

BBC News Indonesia. 2019, “Pelecehan Seksual yang Dialami Anak Penyintas Gempa dan Tsunami Palu: Percobaan Perkosaan sampai Pengintipan di Kamar Mandi”

BBC News Indonesia. 2019, “Hari Anak Nasional: Kisah-Kisah Anak yang Menikah Dini di Kamp Pengungsian Palu”

Nurtyas, Maratusholikhah. 2019. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Pascabenda (Studi Kasus Gempa dan Tsunami di Huntara Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah [Seminar Nasional Unriyo]

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, “7 Komponen Pendidikan Seksualitas Komprehensif”

Radar Sulteng. 2020, “Setahun, 15 Kasus Pelecehan Seksual di Huntara”

Beranda / Cerita Sesa / Gimana Kondisi Perempuan di Huntara (Hunian Sementara) setelah Bencana di Palu?

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content