Pilih Laman

Kata Siapa HIV itu Penyakit Kutukan? Jangan Asal Percaya Stigma, Yuk Baca!

7 Apr, 2022

“Penyakit kutukan itu!” “Banyak dosa, pasti! “Jangan main sama anak itu, jauh-jauh dari dia!” “Wah, dia LGBT, ya”. Pernahkah kalian dengar kalimat-kalimat barusan, nggak? Kejam bin menyakitkan, ya.. Hmm, perilaku seperti itu sering Kawan ODHIV (Orang dengan HIV) dapatkan di keseharian loh…

Hola Kawan, #GengBeda! Jumpa lagi nih sama Pedro. Kali ini, Pedro bakal bahas tentang stigma terhadap ODHIV. Kenapa bisa dapat stigma dan apa aja ya akibatnya? Yuk simak tulisan ini sampai tuntas!

Oiya, Pedro habis dengerin siaran langsung dari @sayaberani_id yang cerita tentang pengalaman salah satu ODHIV bernama Pina (bukan nama sebenarnya). Pina baru tahu kalau ia terkena HIV ketika memeriksakan kandungannya, Kawan. Tentu saja, saat itu Pina panik dan kaget, tidak yakin kepada lingkungan, keluarga, bahkan diri sendiri. Meskipun sempat menunda pengobatan ARV (Antiretroviral), Pina akhirnya minum ARV untuk mengendalikan jumlah virus dan meningkatkan imun.

Saat Pina bilang kalau terkena HIV, keluarga menjauh, beberapa stigma pun ia didapatkan, seperti perempuan tidak benar, terkena penyakit kutukan, dan lain-lain. Aduh, keadaan yang sulit sekali! Pina juga sempat berhenti meminum ARV selama dua tahun karena masalah keluarga yang mengganggu psikisnya. Penyakit-penyakit pun datang menyerang imun, hingga suatu saat Pina pernah nggak bisa lepas dari alat bantu pernapasan. Pina sempat berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia merasa nggak pantas hidup dan ingin mati saja.

Tetapi, untungnya ada kerabat yang mendukung Pina untuk terus berobat supaya sembuh. Pina pun berdoa kepada Tuhan dan bertekad untuk rutin melakukan pengobatan ARV. Beruntung, Pina bisa mengakses ARV di rumah sakit di daerahnya. Sementara di beberapa daerah Timur lain, ARV masih sulit diakses karena jauhnya layanan kesehatan, harus menyeberang dengan perahu terlebih dahulu dan menempuh jarak jauh dan waktu yang panjang.

Kawan, di luar sana masih banyak ODHIV yang mendapatkan label negatif sehingga mereka ketakutan untuk melakukan tes dan ragu untuk berobat. Itu dampaknya fatal untuk ODHIV loh! Risiko ODHIV terkena penyakit yang menyerang imun pun makin besar. Waduh!

Di saat yang bersamaan, masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa HIV bisa menular melalui kontak fisik, penggunaan toilet bergantian, alat makan yang sama, serta dianggap homoseksual. Padahal, nggak kayak gitu, loh.. HIV itu menular dari darah, dari ibu ke bayi, serta hubungan seks yang berisiko, bukan orientasi seksual dan ekspresi gender seseorang.

Akibat dari persepsi yang salah itu, para ODHIV kerap dapat macam-macam stigma. Parahnya lagi, mereka dijauhi, nggak dapat kesempatan kerja, rentan mengalami masalah kecemasan, dan tentunya hal tersebut menghambat pengobatan.

Kawan, HIV juga sering dihubungkan dengan tindakan amoral dan dipercaya berhak mendapat ‘hukuman’. ODHIV dianggap homoseksual, padahal heteroseksual ketika melakukan hubungan seks tanpa pengaman dan berganti-ganti pasangan sama-sama berisiko terkena HIV. ODHIV pun bisa juga mendapatkan virus dari suami atau istri mereka. Nah, makanya stop ngasih stigma yang nggak bener, oke?

Semua ODHIV berhak mendapatkan pengobatan dan dukungan dari lingkungan. Kalau kamu ngasih stigma, bisa jadi bikin dia takut untuk berobat dan itu nambah risiko terkena penyakit. Yuk, dukung kesembuhan ODHIV dengan ngasih mereka semangat dan dukungan ya…

Kawan #GengBeda, pemerintah harus mempermudah akses dan layanan ARV di daerah. ARV harus lebih mudah dijangkau di puskesmas. Pemerintah sangat perlu ngasih pengetahuan tentang bagaimana penularan HIV dan memberi edukasi kalau stigma bisa menghambat pengobatan. Selain itu, yuk perbanyak konten edukasi tentang dukungan pengobatan kepada ODHIV, Kawan! Oiya, sebarin tulisan ini juga yak, biar lebih banyak orang yang sadar bahwa stigma terhadap ODHIV harus dihentikan!

 

Referensi:

Shaluhiyah, Zahroh, dkk. 2015. Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV/AIDS. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, Vol. 9, No. 4

Situmeang, Berliana, dkk. 2017. Hubungan Pengetahuan HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS di Kalangan Remaja 15-19 Tahun di Indonesia (Analisis Dara SDKI Tahun 2012). Jurnal Epidemiologi Kesehatan  Indonesia, Vol. 1, No. 2

Tirto.id. 2019, “Mengurai Stigma pada ODHA: HIV Bukan Masalah LGBT Saja”

Siaran langsung Instagram @sayaberani_id

Beranda / Cerita Pedro / Kata Siapa HIV itu Penyakit Kutukan? Jangan Asal Percaya Stigma, Yuk Baca!

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content