Pilih Laman

Jauh Panggang Dari Api : Pakaian Tertutup “Terhindar” Dari Pelecehan Seksual

29 Nov, 2021

Kasus kekerasan seksual pada perempuan semakin marak terjadi di masyarakat yang notabene menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan dan hak asasi manusia ini. Berdasarkan CATAHU 2021, pada tahun 2020 kasus angka kekerasan seksual menempati posisi pertama untuk klasifikasi kekerasan di ranah publik atau komunitas. Kasus kekerasan seksual lainnya  di urutan pertama dengan 317 kasus, diikuti oleh perkosaan 22 kasus, pelecehan seksual 181 kasus dan pencabulan 166 kasus (CATAHU 2021, Komnas Perempuan).

“Tutup auratmu” kata-kata ini sungguh tidak asing didengar oleh perempuan yang tinggal di lingkungan muslim dan apa lagi dengan adat yang kental seperti Sumatera Barat. “Adat bersendikan agama, agama bersendikan kitabullah” adalah pituah adat minangkabau yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat yang notabene disebut urang awak ini.

Sejak dahulunya perempuan minangkabau menggunakan pakaian tertutup yang popular disebut dengan baju kuruang atau baju kurung . Sesuai dengan namanya “baju kuruang” maka sifat dari baju ini adalah longgar dan menggurung atau menutup anggota badan seperti tangan, dada, paha, dan kaki. Pakaian ini dipadukan dengan penutup kepala yaitu tangkuluak tanduak. Jenis penutup kepala ini terbuat dari kain yang dibentuk menjadi selendang panjang, kemudian dikreasikan menyerupai tanduk dengan dua sisi kiri dan kanan berbentuk lancip seperti tanduk kerbau. (warisan budaya.kemendikbud.go.id) (sumatrazone.go.id).

Dewasa ini modifikasi pakaian terus berkembang termasuk perubahan model baju kurung. Salah satu jenis pakaian yang modelnya mirip dengan baju kurung adalah gamis. Dikutip dari Wikipedia bahasa Indonesia, gamis merupakan sejenis baju kurung yang dominan digunakan di Timur Tengah dan Negara-negara Islam. Kata “gamis” berasal dari kata “khomis” yang bentuknya berupa baju kurung sepanjang lengan panjang, serupa dengan jubah, kaftan dan tunik. Berdasarkan observasi di lapangan, gamis dipakai oleh perempuan dari berbagai kelompok umur seperti anak-anak, remaja dan orang dewasa dengan model kekinian. HN (3 th) mengikuti ibunya ke kantor memakai gamis yang warnanya senada dengan jilbab. FZ (20 th) nyaman dengan gamisnya pergi ke kampus. Begitu juga dengan MS (49 th) yang sehari-hari menjaga warung kelontongnya dengan menggunakan gamis.

Kentalnya budaya patriarki menyebabkan perempuan musti menggunakan pakaian tertutup. Mamak (saudara laki-laki dari pihak ibu) adalah sosok yang disegani dan memiliki power untuk mengatur pakaian kemenakan perempuannya. Dia akan malu dan dianggap tidak mampu mendidik kemenakannya jika yang bersangkutan tidak berpakaian tertutup. FZ yang berasal dari salah satu Kabupaten di Sumatera Barat menuturkan bahwa suatu hari mamaknya berkunjung ke rumahnya dan bertemu dengan Ibunya. Beliau meminta adik perempuan FZ untuk memakai kerudung jika keluar rumah.

Nilai yang tidak kalah berpengaruh terhadap pakaian perempuan adalah perintah agama untuk menutup aurat. Pengajian yang diikuti MZ sekali seminggu di Masjid ada kalanya membahas kewajiban perempuan untuk menutup aurat. Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Perempuan menutup aurat agar terhindar dari fitnah. Jika melanggar mereka akan berdosa.

Masyarakat ikut andil memberdayakan perempuan untuk berpakaian tertutup. Nilai yang tertanam sejak dahulunya adalah perempuan yang berpakaian tertutup adalah perempuan baik-baik. Baik yang dimaksud di sini adalah baik sikapnya, baik tutur bahasanya, baik agamanya dan baik pekerjaannya. Sementara itu perempuan yang berpakaian terbuka sering disebut dengan “perempuan tidak benar” atau “perempuan penggoda laki-laki”.

Meminjam konsep dari Giddens tentang strukturasi dimana aktor dan sruktur saling mengandaikan maka nilai patriaki, nilai agama dan masyarakat adalah struktur yang memberdayakan perempuan berpakaian tertutup.

“Menutup aurat agar terhindar dari pelecehan seksual” adalah pandangan aktor perempuan berpakaian tertutup. Namun pandangan tersebut tidak sesuai dengan  kenyataan yang dialami oleh aktor. Berpakaian tertutup  bahkan dengan jilbab dalam sekalipun mereka tetap mendapatkan pelecehan seksual. Pengalaman ID (22 th) misalnya, tahun ini diterima kerja di perusahaan swasta di Kota Padang. Sejak kuliah hingga sekarang ID menggunakan gamis dengan jilbab menutupi dada. Ia menuturkan bahwa ia beberapa kali di komentari oleh laki-laki di perjalanan dengan kata-kata “assalamualaikum bidadari surga, hallo ibu dari anak-anak ku”

Pengalaman TK (15 th) ketika berangkat ke sekolah dengan pakaian yang tertutup pernah terdesak dalam angkutan umum oleh sekelompok remaja laki-laki dan meyinggung payudaranya. Sama halnya dengan MR (16), ia remaja dengan berat tubuh yang ideal. Namun menurut MR, teman-temannya menyebutnya dengan “bahenol”. Tidak berhenti di sana, mereka menyerang MR dengan kata-kata yang meninggalkan bekas luka “ nutrijel lewat, sepertinya enak”. Nutrijel yang dimaksud di sini adalah bokong MR agak berlemak sehingga kalau ia berjalan bagian tersebut akan bergoyang. Sedangkan kata “enak” dipahami oleh MR adalah laki-laki ingin mencicipi bokongnya tersebut.

Tampaknya berpakaian tertutup untuk melindungi diri dari pelecahan seksual tidak berlaku untuk semua orang. Pengalaman aktor perempuan berpakaian tertutup yang mendapatkan pelecehan seksual salah satu bukti ruang aman publik jauh panggang dari api. Hasil survey yang dilakukan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) tentang pelecehan seksual  di transportasi publik ditemukan 46,8 persen responden mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di transportasi umum (Tirto.id). Sumber lain mencantumkan pelecehan seksual dialami oleh 64 persen perempuan di ruang publik dalam bentuk siulan, mainan mata, komentar mengenai tubuh, komentar seksis dan disentuh (komunitas perempuan, 2019).

Budaya patriarki seorang mamak kepada kemenakan perempuannya, nilai agama yang mewajibakan perempuan menutup aurat dan nilai perempuan “baik-baik” yang diciptakan oleh masyarakat adalah struktur yang melanggengkan perempuan berpakaian tertutup. Berdasarkan pengalaman perempuan yang berpakaian tertutup,  observasi dan fakta di lapangan maka tulisan ini menegaskan bahwa pakaian perempuan tidak ada hubungannya sama sekali dengan tindakan pelecehan seksual yang diterima perempuan di lingkungan publik.

Oleh : Desmaisi

Seorang mahasiswi yang menjadi relawan di PKBI Sumbar dan tengah berjuang menyelesaikan tesisnya tentang praktik pernikahan kembali perempuan di Minangkabau

Beranda / Cerita Nisa / Jauh Panggang Dari Api : Pakaian Tertutup “Terhindar” Dari Pelecehan Seksual

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content