Pilih Laman

Belajar dari Para Guru Hebat!

5 Okt, 2020

Assalamualaikum akhi ukhti,

 

Hari ini Nisa kembali dengan cerita menarik dari para guru hebat pejuang hak kesehatan seksual dan reproduksi untuk para remaja. Dalam #ceritanisa kali ini, kita akan bersama-sama mendengar kisah Ibu Guru Nina dari Sukabumi, Jawa Barat serta Ibu Guru Bintang dari Denpasar, Bali. Kedua guru ini merupakan guru yang sudah selama dua tahun ini menerapkan pendidikan seksualitas yang komprehensif bagi murid-muridnya. Yuk langsung simak kisahnya!

 

Awal mula Bu Nina mengenal pendidikan seksualitas komprehensif, tentu saja beliau mempertanyakan banyak hal, mulai dari “inikan hal yang tabu, memangnya bisa disampaikan ke anak-anak”. Hal tersebut beliau rasakan karena memang kebiasaan di dinas pendidikan itu berbeda. Seiring Bu Nina mempelajari dan mengikuti proses pelatihan, beliau menyadari bahwa ilmu ini penting untuk disampaikan dengan metode-metode yang tepat.

 

Dalam proses mengimplementasikan pendidikan seksualitas, Bu Nina tentu menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Pertanyaan dari rekan guru yang lain serta orang tua murid datang silih berganti. Jam sekolah yang sangat kaku dan keterbatasan waktu tiap mata pelajaran juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Bu Nina memberikan sosialisasi kepada orang tua murid agar orang tua juga dapat berperan sebagai pendamping di rumah. Selain itu, Bu Nina juga dibantu oleh pendidik sebaya di sekolahnya serta 10 guru lainnya dalam proses pemberian edukasi tersebut. Tantangan lain yang belum ditemukan solusinya yaitu, sulitnya memasukkan materi-materi pada jam pelajaran yang sudah ada, sehingga pemberiannya juga belum dapat merata.

 

Ibu Guru Nina merasakan banyak perubahan yang terjadi pada murid-muridnya setelah mendapatkan materi terkait pendidikan seksualitas. Perubahan yang paling dirasakan oleh Bu Nina adalah keterbukaan murid-muridnya terhadap hal-hal yang terkait nilai diri dan emosional mereka. Selain itu perubahan lain adalah kesadaran anak laki-laki terhadap apa yang menjadi bahan tertawaan selama ini. Dahulu mereka sering mengolok-olok teman-teman perempuannya dan melakukan hal yang usil, padahal perilaku mereka adalah suatu bentuk pelecehan dan tidak boleh dilakukan. Seiring mereka menyadari merekapun mengurangi perlakuan-perlakuan yang menyasar anak perempuan dan itu membuat kami para guru pun lebih tentang.

 

Saat ini, di sekolah Bu Nina juga disediakan fasilitas untuk menunjang proses dialog dan bercerita oleh anak-anak di sekolah. Ruangan khusus ini disiapkan agar murid-murid bisa berbagi cerita dengan pendidik sebaya dan guru dengan aman dan nyaman. Dukungan fasilitas dari sekolah membuat anak-anak semakin terbuka kepada gurunya. Bu Nina juga mengungkapkan bahwa pendidikan seksualitas komprehensif mampu membantunya untuk mencegah kekerasan di sekolah, dapat mengurangi relasi yang tidak setara antara anak laki-laki dan perempuan, serta membantu anak-anak membahas hal-hal yang tidak ada di kurikulum seperti cita-cita serta kesehatan mental.

 

Sekarang kita terbang ke Denpasar, Bali. Nisa mengenal Bu Bintang dari salah satu webinar yang membahas kesehatan seksual dan reproduksi. Bu Bintang mengatakan bahwa kemauannya untuk memberikan pendidikan kesehatan dan reproduksi kepada siswanya karena ia berada di lingkungan anak-anak SMP. Di mana anak-anak tersebut berada di masa transisi. Masa transisi tersebut membuat mereka membutuhkan banyak sekali informasi terkait pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi. Namun pada faktanya Bu Bintang menemukan jika remaja cenderung mencari informasi yang sumbernya kurang tepat, mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa ketika ingin mendapat informasi kesehatan seksual dan reproduksi.

 

Berdasarkan pengalaman tersebut, Bu Bintang merasa informasi terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi perlu sekali disampaikan kepada anak-anak remaja sebagai bekal anak-anak tersebut pada usia dewasa. Bu Bintang menyadari tidak semua orang tua mau dan mampu untuk memberikan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi karena alasan tabu, malu dan menganggap anaknya akan mampu mengetahui sendiri. Padahal, ilmu ini yang dapat membuat masa-masa pertumbuhan remaja lebih berdaya dan bahagia.

 

Ketika awal Bu Bintang menyampaikan materinya, para siswa dan siswi bertanya tentang apa sih pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi. Seiring berjalannya waktu Bu Bintang menyampaikan bahwa kita akan mempelajari diri kita dan mereka antusias dengan hal tersebut. Bu Bintang mengakui murid-muridnya antusias karena metode yang digunakan asik dan santai. Para guru dapat membaur dan setara dengan siswa-siswa. Beberapa perubahan yang terjadi pada siswa-siswa di sekolah yaitu mereka jauh lebih terbuka dan mampu mengungkapkan pendapat dari sudut pandang mereka. Pola pikir mereka juga berubah, awalnya mereka berpikir bahwa kesehatan reproduksi adalah belajar organ intim tapi ternyata materi ini lebih mempelajari tentang diri sendiri dengan lebih dalam.

 

Jika membahas mengenai kekerasan, siswa-siswi Bu Bintang sering bercerita tentang kejadian bullying atau emosi yang muncul di antara mereka sebagai teman sebaya. Mereka berpikir  emosi itu hanya marah padahal emosi ada senang, bersyukur, sedih dan lain sebagainya. Maka dari itu Bu Bintang senantiasa membiasakan anak-anak untuk dapat mengungkapkan pendapat tanpa intervensi dari ibu gurunya, sehingga muncul keterbukaan dan percaya diri. Tantangan yang paling menonjol adalah karakter siswa yang dihadapi berbeda. Mereka lahir dari latar belakang yang berbeda dan tumbuh di keluarga yang berbeda pula, makanya yang sulit adalah menyatukan nilai-nilai dengan mereka. Mau tidak mau teman-teman remaja ini masih dalam proses pencarian jati diri, maka dari itu bu Bintang menitik beratkan pada rasa percaya dan keterbukaan di antara siswa-siswanya, karena ini adalah proses yang tidak sebentar.

 

Wah keren banget ya Bu Nina dan Bu Bintang! Mereka berdua mau memperkenalkan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi di sekolah, meskipun masih banyak yang menganggap tabu. Nah kalau melihat pengalaman dan kontribusi Bu Nina serta Bu Bintang, siapa guru yang menjadi panutan kalian?

 

Penulis : Yumna Nurtanty Tsamara

 

Beranda / Cerita Nisa / Belajar dari Para Guru Hebat!

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content