Pilih Laman

Haruskah Kita Meng-cancel “Cancel Culture”? 

24 Des, 2021

“Kulihat kamu udah nggak pakai gantungan kunci idolmu lagi. Kenapa tuh, Gem?” tanya Nisa suatu hari waktu Geng Beda lagi jalan bareng.

“Iya nih, aku kecewa banget sama dia yang gak sensitif sama perkataannya. Jadi ku-cancel aja. Fandom kami juga sepakat buat nggak dukung dia lagi,” Gema menjawab dengan agak gregetan.

Pedro ikutan bertanya, “emangnya cancel publik figur itu bakal efektif ya buat bikin orang lain belajar nggak ngelakuin hal itu?”

“Aku juga nggak begitu yakin,” kata Sesa 

Kalau diartikan secara literal cancel culture berarti budaya membatalkan. Istilah ini dianggap sebagai budaya baru memboikot atau menarik dukungan terhadap seseorang dari sebuah lingkaran sosial atau profesional. Di era ini cancel culture dilakukan secara online dengan kekuatan amplifikasi pesan lewat media sosial. Kenyataannya, fenomena boikot ini bukanlah hal yang baru, meski penyebutan dan caranya berbeda. Cancel culture juga kadang disebut call-out culture.

Penarikan dukungan atau cancelling ini biasanya dilakukan terhadap figur publik, politisi, idola, atau bahkan brand dan film yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang merugikan bagi seseorang, suatu kelompok atau pandangan tertentu. Bentuknya bisa lewat perkataan, postingan, wawancara atau karya seperti lagu atau tulisan yang dianggap bermasalah. Nah, perbuatan yang sering di-cancel misalnya merendahkan kelompok tertentu, bersikap atau mengatakan sesuatu yang bermuatan homofobia, transfobia, seksisme, misoginis, atau antikeberagaman. 

Cara meng-cancel figur tersebut bisa bermacam-macam, seperti bersama-sama berhenti mendukung, nggak membeli, menonton atau mengapresiasi karya lagi, maupun meminta brand untuk nggak bekerja sama lagi atau membatalkan kontrak dengan figur yang di-cancel tersebut. Biasanya orang atau kelompok yang meng-cancel seseorang akan secara terbuka membuat pernyataan di media sosial, website atau melalui petisi online yang bisa dengan mudah disebarkan, diisi, dan dilipatgandakan.

Beberapa figur bermasalah yang melakukan pelecehan seksual juga di-cancel secara terbuka dalam #MeToo, gerakan sosial anti kekerasan seksual yang membantu korban bersuara dan mengekspos pelaku-pelaku kekerasan. Contohnya, produser film Hollywood Harvey Weinstein yang dinyatakan bersalah dalam kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan dan penyanyi R&B R. Kelly yang dinyatakan bersalah dalam kasus perdagangan seks.

Ini adalah hasil yang diharapkan dari budaya membeberkan kesalahan tokoh terkenal: kasusnya terbuka secara publik dan pelakunya dinyatakan bersalah melalui pengadilan. Sebelum kasus ini naik, para korban sulit bersuara karena posisi pelaku kekerasan seksual yang lebih dominan secara sosial dan ekonomi. Nah, gerakan ini menyebarkan pesan bahwa menyeret pelaku kekerasan yang punya kuasa, terkenal, dan berpengaruh ke pengadilan adalah hal yang mungkin terjadi. 

Efektif atau nggaknya cancel culture sering dinilai dari kemampuan tekanan publik untuk mendorong figur bermasalah tersebut berpikir ulang soal perbuatannya, bikin pernyataan terbuka untuk mengakui kekeliruannya, dan harapannya nggak mengulanginya lagi. Meski nggak serta merta menghilangkan kekerasan seksual atau rasisme sehari-hari, tindakan meng-cancel ramai-ramai ini diharapkan bisa bikin efek jera buat para pelaku. 

Di sisi lain, kalau nggak dilakukan secara strategis dan berpihak pada korban, call out terhadap pelaku ini bakal berdampak buruk buat korban. Di media sosial identitas korban bisa banget dicari, dibeberkan, dan diketahui banyak orang. Korban pun rentan mengalami beban ganda jadi pihak yang disalahkan oleh masyarakat.

Nggak jarang juga beberapa figur justru menghilang dan nggak menganggap pemboikotan terhadap dirinya serius. Ini juga didukung oleh cepatnya pergantian wacana atau isu di sosial media. Hari ini ngomongin sesuatu yang viral, besoknya bisa beda lagi. Ini bikin masyarakat gampang lupa sama hal-hal esensial yang terjadi di beberapa saat sebelumnya.

Sementara itu, selain kemenangan-kemenangan kecil di media sosial, beberapa publik figur justru menghadapi efek buruk dari kultur ini karena cuitan, wawancara, atau tulisan lama mereka di masa lalu muncul ke permukaan. Beberapa dari mereka ketika masih remaja pernah menulis sesuatu yang rasis, nggak simpatik terhadap identitas atau kejadian tertentu. Contohnya, Ardhito Pramono penyanyi Indonesia yang dianggap rasis dan homofobia karena twitnya satu dekade yang lalu serta Alexi McCammond, editor in chief Teen Vogue yang harus resign karena twit lamanya dipermasalahkan. Pada kasus seperti ini cancel culture dianggap bermasalah karena pada kenyataannya manusia bisa berubah dan pikirannya bisa berkembang. 

Buat kasus kayak gini, nggak ada salahnya kita melirik budaya tandingan cancel culture, yaitu redemption culture–menyadari bahwa siapa saja bisa melakukan kesalahan, tindakan yang penting dilakukan adalah mengajak orang tersebut untuk mengakui kesalahannya dan secara aktif memperbaikinya, bukan dengan cara mempermalukannya di internet. 

Dalam beberapa kasus, hidup di lingkungan yang nggak menghargai perbedaan dan cenderung menghakimi bisa bikin orang berpikiran sempit. Namun, kalau seseorang terus-terusan bergaul dengan orang dengan berbagai latar belakang, baca lebih banyak hal, serta berdiskusi secara sehat soal perbedaan pandangan seseorang bisa lebih berpikiran terbuka. 

Nggak hanya dilakukan oleh orang-orang yang punya pandangan sosial yang progresif atau yang sekarang ini sering dibilang ‘woke’, cancel culture juga bisa dilakukan oleh pihak dengan pandangan yang berbeda banget. Misalnya kelompok yang pandangannya konservatif, yaitu mereka yang mempertahankan kebiasaan dan adat istiadat juga punya kecenderungan buat memboikot pandangan dan opini yang berbeda.

Keberagaman spektrum gender sering dikecam oleh kelompok konservatif yang masih percaya kalo gender itu hanya biner. Padahal, sudah banyak penelitian yang menunjukkan kalau gender itu bukan hanya laki-laki dan perempuan melainkan spektrum yang bervariasi. Sedihnya, individu yang secara publik coming out atau melela bahkan dapat mengalami bullying secara online maupun secara langsung di kehidupan mereka dan di-cancel beramai-ramai oleh pihak yang nggak mengakui keberagaman. Dalam kasus seperti ini, Geng Beda merasa kalau dialog dan usaha berkelanjutan buat mengedukasi publik perlu banget dilakukan buat menjembatani perbedaan pandangan yang gap-nya besar ini dibandingkan dengan saling meng-cancel.

Yuk, Lebih Kritis Lagi soal Cancel Culture

Geng Beda percaya bahwa kita perlu banget melihat suatu kasus dengan kritis. Apakah seseorang perlu di-cancel karena apa yang ia lakukan? Apakah ini efektif buat perubahan yang lebih luas? Apakah pesannya bakal sampai ke masyarakat? Atau jangan-jangan kita justru bakal terlihat seperti sekelompok orang yang gampang marah dan gemar menghakami orang lain? 

Hal ini justru bisa dibilang nggak tepat sasaran ketika menyampaikan edukasi tentang nilai-nilai yang sebenarnya ingin kita suarakan. Apakah ada cara lain buat mencapai tujuan besar kita? Misalnya mendorong masyarakat yang lebih ramah terhadap identitas minoritas dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang biasa dan wajar, selain melakukan cancelling terhadap individu atau kelompok tertentu.

Kalau bisa Geng Beda simpulkan, cancel culture punya beberapa manfaat. Pertama, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kasus penting yang jarang diketahui. Sebelum marak dibicarakan, banyak orang yang mengira kalau perkataan atau perbuatan menyakitkan terhadap kelompok tertentu sebagai hal yang biasa atau bercanda saja. Dengan adanya cancelling, jadi muncul perbincangan soal seberapa pentingnya kasus tersebut bagi kelompok yang termarjinalkan. 

Kedua, mencegah keberulangan perbuatan berbahaya tersebut. Dengan lebih banyak obrolan soal tindakan yang nggak sepatutnya dilakukan itu makin banyak orang yang berhati-hati dan nggak mengulangi kesalahan yang sama. 

Ketiga, menyatukan individu dan kelompok dengan pandangan serupa yang memperjuangkan hal-hal yang mereka pedulikan dan ingin mereka wujudkan di masyarakat. Misalnya, nilai antikekerasan terhadap identitas yang beragam.

Sementara itu ada pandangan lain yang menilai cancel culture nggak selalu berhasil bikin perubahan. Pertama, membuat orang gampang menghakimi, bahkan mereka yang nggak tahu konteksnya kadang kala ikut-ikutan saja dan menganggapnya sebagai aktivisme digital. Begitu cepatnya sesuatu jadi trending topic, bikin orang kurang kritis membaca situasi dan mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. 

Kedua, berpotensi menutup ruang berekspresi bagi pandangan-pandangan lain. Dalam beberapa kasus cancel culture justru digunakan untuk menjatuhkan orang dengan pandangan lain dibanding mengedukasi publik tentang tujuan yang ingin dicapai. Pandangan berlawanan itu bisa jadi nggak hilang di dunia nyata, hanya semakin senyap saja di media sosial.

Ketiga, di dalam kehidupan nyata, mempermalukan orang atas kesalahannya jarang bisa bikin orang tersebut berubah. Untuk benar-benar bikin orang berubah, kita perlu masuk ke kesadaran orang tersebut dengan cara menjelaskan di bagian mana mereka salah dan bagaimana tindakan tersebut menyakiti orang atau kelompok lain.

Nah, keputusan buat memilih melakukan cancelling ini balik lagi ke kamu. Kalau kamu sendiri gimana memandang fenomena cancel culture ini?

Buat baca lebih lanjut soal cancel culture kamu bisa cek di bawah ini, ya

Referensi

“We can do better than cancel culture” https://assembly.malala.org/stories/we-can-do-better-than-cancel-culture

“‘Call-Out Culture’ di Media Sosial: Berfaedah atau Bikin Lelah?”

https://magdalene.co/story/call-out-culture-di-media-sosial-berfaedah-atau-bikin-lelah

“Sisi ganda cancel culture”

https://www.thefineryreport.com/articles/2020/6/16/the-duality-of-cancel-culture-8w5tm

“Cancel Culture : Membahayakan atau Menyelamatkan?”

http://psikologi.uinjkt.ac.id/cancel-culture-membahayakan-atau-menyelamatkan/

“Why we can’t stop fighting about cancel culture”

https://www.vox.com/culture/2019/12/30/20879720/what-is-cancel-culture-explained-history-debate

“Understanding Cancel Culture: Normative and Unequal Sanctioning”

https://firstmonday.org/ojs/index.php/fm/article/view/10891/10177

“Can we cancel ‘cancel culture?”

https://theconversation.com/can-we-cancel-cancel-culture-164666

Beranda / Cerita Gema / Haruskah Kita Meng-cancel “Cancel Culture”? 

Artikel Lainnya

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Skip to content